Minggu, 13 Maret 2011

Sapu Tangan Dari Tyo

Dear Diary,,,,
Oh senangnya hatiku,,,
Melihat dia yang semakin dekat denganku,,,
Rasanya mimpi menjadi nyata,,,

Ups, hai, jadi keasyikan nulis diary nih. Habis mau bagaimana lagi, mumpung di sekolah ada jam kosong. Oh ya, lupa kenalan, namaku Luna Laili. Cukup singkat.
Luna artinya bulan, dan Laili berati malam. Mungkin orang tuaku berharap, aku bisa menjadi penerang di dalam kegelapan.
”Lun, bengong aja deh, mikirin apa sih”.
Aduh...!! ganggu orang lagi ngelamun aja deh. Ini nih, yang namanya Tyo, dia sahabat yang paling the best yang pernah kumiliki. Dia rela lho, masuk tim basket Cuma gara-gara pengin mendapat informasi soal Bryan buat aku.
Bryan, dialah pangeran pujaanku yang baru saja kutulis di buku harianku.
”Mikirin Bryan”, aku blak-blakan pada Tyo.
”Hmm, iya deh, yang lagi jatuh cinta”, timpalnya.
”Yo, kamu ngomong ke dia dong...”, rengekku.
”Ngomong apa, ngomong bahwa kamu suka dia??”, godanya.
”Jangan!!! apa gitu loh, suruh ngajak aku dating gitu, kan bagus”, jawabku asal.
Tyo hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, mungkin aneh melihatku yang selalu jaim pada cewek, bisa-bisanya merengek pengin diajak dating oleh cowok yang bernama Bryan.
Pesona seorang Bryan di sekolahku memang sudah terjamin. Bermodal tampang yang cakep (banget) mirip Robert Pattinson (yang mirip cuma rambutnya doang sih!!), dan prestasinya yang sudah segunung ( lebay banget yah..!!) membuatnya digilai para wanita, termasuk aku. Itulah sedikit penilaianku tentangnya, dan beruntungnya, aku dikasih kesempatan Tuhan untuk dekat dengannya. Thank God!!!
” Mau ya Yo..??!!”, rengekku pada Tyo.
” Ntar aku usakan deh, tapi nggak janji loh”.
Begitulah kalimat yang selalu dilontarkan Tyo padaku jika aku minta tolong padanya. Maksud dia baik, agar aku tidak menaruh harapan besar padanya.
Tetapi, Tyo tetaplah Tyo, dia selalu menepati janjinya. Benar saja, seminggu kemudian, aku diajak dating Bryan. Hampir copot jantungku saking deg-degannya.
= = = *_*= = =
Aku diajak ke restaurant yang paling romantis di kotaku, akupun berusaha tak mengecewakannya. Kukenakan dress warna soft pink, rambutku yang panjang kubiarkan tegerai, tak lupa kuberi bando warna senada sebagai pemanis. Walau menghabiskan bedak mamaku, aku tak peduli. Yang pasti aku harus kelihatan perfect di depannya.
Prediksiku tak melesat. Dia sangat terpesona dengan penampilanku. Wajahku tersipu malu. Detak jantungku tak karuan. Dag dig dug der lah..!!
Ingin aku pingsan saja di pelukannya. Hu... penginnya.
Aku diajak ngobrol terus dengannya, eh, Bryan orangnya humoris juga loh. Aku puas-puasin memandang wajah cute-nya. Mendengar semua cerita konyolnya, aku jadi makin tertarik dengannya.
Setelah kejadian dating itu, aku makin dekat dengannya, bahkan tak jarang ia mengunjungiku di kelas. Cewek-cewek berhasil ku buat iri. Tapi, sekarang Tyo agak menjauh, aku sulit sekali bertemu dengannya. Walaupun begitu, ia selalu ada saat aku membutuhkannya. Sebagai rasa terima kasihku pada seorang Tyo, aku mencomblangkan dia dengan Lala, soalnya Lala sudah lama naksir Tyo. Kali aja kan mereka jodoh hehehe...
= = = *_*= = =
Akhirnya aku dating lagi dengan Bryan untuk kesekian kalinya. Mungkin kali ini, cuaca tak mendukungku. Sudah satu jam lebih hujan mengguyur rumahku dengan kejamnya.
Aku mondar-mandir hampir 10x di ruang tamu. Resah menunggu Bryan yang katanya mau menjemputku di rumah. Kutatap jam tanganku berkali-kali, bukan karena model jam tanganku yang modern dan elegan (walau barang aspal), tapi karena waktu yang seakan segera menghabisiku.
Tok.... tok....tok....
Pintu diketuk (udah tau kali..!!). Hatiku berbunga-bunga, sang pujaan yang dinanti akhirnya datang juga (ceileh..!!)
Tapi.......
”Tyo??”.
Bukan..., bukan Bryan yang datang ke rumahku, tapi Tyo, ia basah kuyub. Aku kaget melihatnya dalam keadaan basah dan wajahnya yang pucat.
”Kau kenapa Yo..??”, aku bingung.
Tyo mengeluarkan sapu tangan merah. Terukir huruf ’L’ yang indah di tengahnya. Ia menyodorkannya kepadaku.
”Buat Lala ya Yo??”.
Tyo hanya tersenyum penuh arti. Aku tahu Tyo bakalan suka dengan Lala.
”Lala pasti senang dengan hadiah ini”, batinku.
”Kamu hanya mau titip ini Yo?, kenapa nggak kamu ke orangnya langsung?, kenapa harus hujan-hujan gini,” aku memberondong Tyo dengan pertanyaan-pertanyaan yang sudah menumpuk di pikiranku sejak tadi.
”Bryan tu playboy”, jawabnya tegas.
”Kamu ngomong apa sih??”, aku makin nggak ngerti.
”Jangan percaya sama semua omongannya..!! semua tuh hanya omong kosong”, nada bicara Tyo makin meninggi, persis orang marah.
”Tapi, tapi... kamu yang bilang dengan dia masalah akau kan, kenapa kamu jadi nggak percaya gitu sama dia??”.
”Aku sudah bilang kalau aku nggak janji kan..!!”.
Ku pegang kepalaku yang sudah pening, mataku berkunang-kunang mendengar omongan Tyo yang kuanggap ngelantur.
”Aku pasti beru bermimpi”
”Sadar Lun, kamu lagi dibohongi”, Tyo menggoyang-goyangkan tubuhku perlahan, tepat saat Bryan datang menjemputku.
”Udah Yo, kamu nenangin diri kamu dulu deh, sorry Yo, aku mau pergi”.
Aku tak punya pilihan lagi, aku sudah menunggu Bryan dari tadi, aku sudah janji dengan Bryan, aku nggak mungkin mengecewakannyakan. Aku masuk ke mobil Bryan, walau rasa ragu masih menggelayutiku.
”LUNA...!!!”, Tyo berteriak kencang ke mobil Bryan yang sudah melesat.
= = =*_*= = =
”Lun kamu nggak apa-apa kan??”, Bryan menatap wajahku, tak lupa tangannya memastikan bahwa badanku tidak panas.
Duh, perhatian banget...!!
”Nggak, cuma agak males aja”, aku ngeles.
Tiba-tiba kedua tanganku dipegang Bryan. Dan....... dia mengucapkan kalimat yang aku impikan.
”Lun, aku sayang sama kamu, kamu... mau nggak jadi pacarku?”.
Aku tersipu malu, belum sempat aku menjawab, ada cewek yang langsung menampar Bryan
Aku berdiri saking kagetnya
”Udah berapa puluh cewek yang kamu rayu”.
Beh.............
Udah aku duga kejadiannya pasti kayak di film-film tentang orang playboy. Aku emang sakit hati seorang Bryan ternyata playboy seperti perkataan Tyo. Tapi entah mengapa aku tidak dendam atau pengin nampar pipi Bryan sekalian biar tahu rasa, pikiranku hanya tertuju pada.... Tyo
”Mbak, Mbak itu udah ditipu sama dia bla bla....”, kupingku terasa panas, tak kuhiraukan ocehan cewek ini beserta si playboynya itu.
”Udah Mbak, OK...!! kesimpulannya Bryan itu playboy”, simpulku malas.
Mbak itu melongo melihat sikapku yang tidak menyesal sedikitpun.
Tiba-tiba handphoneku berbunyi. Lala menelponku
.”Ada apa, La?”.
”Tyo Lun..!! kau harus ke rumah sakit sekarang”, Lala kelihatan panik.
Mau tak mau aku ikutan panik, ku berlari menyetop taksi.
= = =*_*= = =
”Tyo Lun, dia.....”, Lala tak bisa berkata-kata lagi.
Ia menggiringku ke suatu bangsal.
Di sana sudah banhay orang berkerumun. Sebagian besar itu teman-teman sekolah. Mereka mengerubungi tempat tidur seorang pasien
Aku mencoba mendekat hingga......
Kulihat selimut putih telah menutup sebagian dari tubuh seseorang. Kuamati lagi wajah yang sudah kaku tak bernyawa itu
TYO...!!”, ku berteriak histeris, mataku tak henti mengeluarkan air mata.
Lala menengankanku.
”Nggak mungkin...!! Tyo belum mati”, aku tak percaya.
”Ikhlaskan Lun”, Gilang, sahabat Tyo ikt menenangkanku.
Badanku ku dekatkan ke Tyo yang sekarang tiada. Kulihat wajahnya untuk terakhir kali.
”Kenapa bisa terjadi La”, ku biarkan air mataku meleleh.
”Dia kecelakaan Lun, waktu dia berusaha mengejarmu”, Lala mengusap kepalaku.
”Lun...”, Gilang memberiku sepucuk surat.
”Ini dari Tyo, dia menitipkan ini karena dia belum sempat kasih ini langsung ke kamu”.
Ku baca suratnya
Dear My Luna,
Mungkin, diriku tak pandai mengunkapkan perasaan
Mungkin, diriku hanyalah pengecut
Tapi Luna, aku tetap sayang kamu...
Lebih dari sahabat
Aku ingin kamu tahu, kalau semua yang aku lakukan
Itu agar membuatmu tetap tersenyum dan bahagia
Lun, aku sangat menginginkanmu,
Walau aku tahu, bahwa kau bukan milikku
Tapi, aku akan terus sayang padamu
Hingga akhir waktu
Sapu tangan itu sebagai tanda aku akan setia
TYO
Aku menerawang jauh.
” Tyo...aku juga sayang kamu”, bisikku.
Namun, aku tahu, aku takkan bisa memilikinya.
Kini, aku hanya bisa merelakannya pergi, damai di surga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya